PENERIMAAN SISWA BARU

Sekolah SD – SMP LIDIA telah membuka pendaftaran siswa – siswi baru tahun ajaran 2012 – 2013. Persyaratan, formulir bisa di lihat dalam pengumuman sekaligus bisa di download.
Sekolah SD – SMP Lidia belajar hari senin sampai hari jumat sabtu libur
Hubungi :
Pak Jacky : 081 588 506 01
Pak Fredy : o821 3831 5346

ANAK SEBELUM LAHIR

ANAK SEBELUM LAHIR
Setiap anak tentu lahir dari kandungan ibu namum bukan ia yang meminta dan memilih itu, dan bukan karena anak itu mau tetapi semua karena cinta antara kedua orang tua. Dan Dan setiap orang tua sadar atau tidak sadar kadang anak ada di setiap keluarga berarti ada purpose Allah dan tujuan itu di ungkapkan dalam sebuah filsafat kuno Ibrani yaitu “ Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi Leader bagi bangsa-bangsa”, Kata ini ber makna bagi setiap anak ketika ada di dalam keluarga. sekolah

KULTUR PENDIDIKAN MASIH DISKRIMINASI ANAK ABK

Dunia pendidikan mengarahkan semua sekolah untuk berkarakter, namum kenyataan di budaya sekolah dalam keseharian belum dilaksanakannya secara utuh motto karakter. Sudut pandang anak ABK. Apakah Anak ABK bisa masuk sekolah umum dengan anak normal dalam satu kelas ataukah memang mereka ada di sekolah khusus. Padangan menerima anak ABK di sekolah umum atau sekolah khusus! Ada beberapa faktor: pertama, cara berpikir mendidik bukan di arahkan kepada kognitif inteleklual semata, namum keseimbangan antara kognitif berpikir intelektual memang harus, namum prilaku anak tidak kala penting juga di perhatikan. Pengalaman pengasuh dan mendidik anak ada budaya “biarkan” sekolah Internal kami, memang ada anak normal dan anak ABK: tentu tidak semua anak ABK di terima, karena penanganannya tentu berbeda – beda sesuai prilaku anak tersebut. Pertanyaan kami apakah mereka biar di lingkungan khusus anak ABK sama anak ABK, menurut kami bisa, namum dampak yang anak ABK tersebut terima prilaku menjadi lebih cepat berubah mungkin sangat lambat, sekalipun ada perubahan. Pandangan kami, anak ABK memang bisa ada di kelas bersama anak normal, dengan kreteria penerimaan yang perlu pantau perkembangan historis awal keterangan dari orang tuanya sehingga sekolah bisa mengarahkannya di dalam orang tua melibatkan mengawasi serta menanyakan ke guru tingkat perkembangan anak di kelas tetapi memberikan  kesempatan anak ABK dapat pendidikan, baru di arahkan ke prosesnya. Tetapi kebanyakan sekolah tutup diri dengan anak ABK. pengamatan saya terutama memperhatikan sikap pertama anak normal memang ia tolak ko di sekolah ini ada anak ABK, tetapi sering kami tekankan saling menghargai, saling berbagi, hal semacam ini terus ditekankan pada akhirnya saya lihat dalam keseharian mereka di lingkungan sekolah makin lama bisa mereka terima hal ini tidak terlepas dari peran semua guru, bahwa sesungguhnya kita hanyalah alat untuk mengarahkan anak, tidak lebih, sekali pun kita punya status sosial ada. Kedua, Perjalanan dan pengalaman kami mendidik seiring waktu berjalan, pada akhirnya banyak hal positif saya melihat anak yang normal bisa menerima anak ABK dengan pengertian mereka dalam menyapa dan bermain satu sama lain, bagi kami ini poin penting anak bisa salaing terima dan bermain lanjutan kami lembaga hanya mengarahkan sesuai visi dan misi kami bahwa penekanan kita semua sama dalam hak – hak kita mendapatkan pendidikan,(semua punya hak) cuma terkadang status budaya, dan cara berpikir kita lah yang membatasi diri kita melihat anak yang ABK dan anak normal berbeda. Ketiga, bahwa sesungguhnya dalam pengalaman kami beberapa anak ABK punya prestasi yang bagus, dan itu tandanya bahwa apakah anak ABK perlu satu kelas dengan anak – anak normal? sekolah sering masih mendiskriminasi anak – anak ini, di pihak lain dalam acara2 tv sering kita melihat mereka punya prestasi, namum di sisi lain dunia dan kultur pendidikan Indonesia masih mendiskriminasikan mereka, sekalipun seminar dimana2 dalam dunia pendidikan coba memperhatikan hak anak, namum kenyataan sekolah masih di liputih jangan menerima anak ABK. ya kita juga di harus mengatakan anak ABK harus di terima, namum mereka harus ada kesempatan mendapat pendidikan, tergantung anak ABK mana yang  di terima karena ada macam2 sikologi pribadi masing2 ada klasifikasi karena semua anak ABK tentu di tangani secara khusus pula sesuai dengan prilaku anak itu sendiri. mungkin ini ulasan umum bahwa kultul pendidikan kita belum menerima mereka ada di sekolah entah negeri atau pun swasta. Kalau pun lembaga yang menerima anak ABK kadang ada diskriminasi juga dari sekolah lain, bahkan mungkin di ketawain mengapa kamu menerima, biar mereka ada di sekolah khusus aja, jadi memang tidak mudah sekolah umum negeri atau swasta menerima anak ABK,,,

PROSES BERPIKIR ANAK

Proses berpikir adalah merupakan sebuah mesin, artinya anak dari sejak kecil harus di bimbing dengan prinsip-prinsip pembelajaran yang baik dengan aturan – aturan yang baik dan kasih sayang yang cukup, maka anak bertumbuh sesuai proses berpikir yang benar dan baik. Dalam pengamatan saya bagi kebanyakan orang tua justru ia mau anaknya jadi pintar sehingga anak belum cukup umur orang tua sudah memaksa dengan hal-hal yang belum pantas ia mengamati dan lakukan, sehingga kesiapan berpikir tidak terintegral dalam sistim saraf yang baik untuk mengelolah pikirannya sendiri belum maksimal dalam menyerap proses pemikiran yang terintegrasi baik, seolah-olah anak tidak mencapainya, sekalipun ia pintar dalam segi-segi tertentu namum yang lainnya anak tersebut tidak bisa mendapatkannya dengan baik, hal ini yang menyebabkan anak jadi remaja maka untuk mengendalikan pikiran sehat dan benar tertinggal, namum ia pintar dari sisi kognitif. proses pemikiran ini saya kategorikan dalam tiga bagian.Pertama, proses awal harusnya orang tua perahatikan kasih sayang kepada anak tersebut. kedua, anak mendapat kesempatan dalam mengamati hal ini penting sebabnya orang tua selalu mengarahkan anak tersebut dalam mengamati hal-hal yang baik dan benar menghindarkan pengamatan negatif yaitu kekerasan atau hal – hal negatif lainnya. Ketiga, ajarkan tentang mengamati, menghitung, mambaca dalam usia ini tentu sudah tahap anak memulai berinisiatif dalam tanggung jawab seperti ambil buku, ambil bola,dll. Dengan demikian pelaksanaanya tatap – tatap ini kami percaya pengelolahan cara berpikir, mengamati, melakukan akan terintegrasi dengan baik dalam pemikirannya, maka anak – anak ini menjadi pribadi yang yang bijak dalam kognitif intelektualnya baik, namum prilaku karakter lebih baik dan benar.

By sdsmplidia